RSS

Remunerasi Kepres 254/VII/10 vs Kebijakan Outsourcing

31 Jan

Isu-Isu mengenai Remunerasi yang telah direncanakan oleh Pemerintah untuk perbaikan pendapatan (gaji) Aparatur Negara semakin santer diperdengarkan dimana-mana, mulai dari peluncuran gossip bahwa Presiden telah mengeluarkan Kepres 195, kini muncul lagi gossip baru mengenai Kepres 254/VII/10 yang isinya sedikit banyak tidak jauh berbeda dengan Kepres 195 terdahulu.

Duit..Duit..Duit..

Remunerasi

Untuk menyikapi hal ini sebagai Aparatur Negara yang baik, harus dapat berfikir dari segala aspek, kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi baik secara moral ataupun tingkat sosial akan memicu inflasi yang benar-benar serius, daya beli Aparatur Negara boleh dikatakan stabil meskipun dibarengi dengan kenaikan harga-harga bahan pokok, akan tetapi sebagai Aparatur Negara apakah tidak memikirkan efek yang akan terjadi di lingkungan masyarakat yang tingkat penghasilannya bisa dikatakan masih dibawah rata-rata standard (UMR/UMK) ?

Pemanfaatan outsourcing sudah tidak dapat dihindari lagi oleh perusahaan di Indonesia. Berbagai manfaat dapat dipetik dari melakukan outsourcing; seperti penghematan biaya (cost saving), perusahaan bisa memfokuskan kepada kegiatan utamanya (core business), dan akses kepada sumber daya (resources) yang tidak dimiliki oleh perusahaan.

Salah satu kunci kesuksesan dari outsource adalah kesepakatan untuk membuat hubungan jangka panjang (long term relationship), tidak hanya kepada proyek jangka dekat. Alasannya sangat sederhana, yaitu outsourcerharus memahami proses bisnis dari perusahaan. Perusahaan juga akan menjadi sedikit tergantung kepada outsourcer. Ini seperti memilih istri. Namun ternyata hal ini tidak mudah dilakukan di Indonesia. Terlebih-lebih lagi di Indonesia ada banyak masalah dalam menentukan partner outsourcing ini.

Outsourcing, Nasib..Nasib..

Outsourcing

Di institusi milik pemerintah, seperti BUMN, pemilihan penyedia layanan harus dilakukan dengan melalui tender. Akibatnya pemenang tender sulit untuk diramalkan. Demikian pula perpanjangan layanan mungkin harus ditenderkan lagi. Hubungan baik antara pengguna jasa outsourcing dan penyedia jasa outsourcing sulit terjadi.

Ini seperti memilih istri tapi ditenderkan, begitu komentar salah satu peserta Sharing Vision yang kami selenggarakan di Hotel Preanger, tanggal 23 – 24 Februari 2006. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mengundang Aa Gym saja harus melalui proses tender.

Disisi lain, praktek-praktek Outsourcing di Indonesia yang semakin menggila, terus mewabah di tiap-tiap Perusahaan Negara maupun Swasta, hal ini akan terus berlanjut sehingga sedikit banyak akan terus menggilas prospek-prospek generasi muda yang akan datang, yang ingin mendapatkan penghasilan dan pekerjaan yang layak untuk menopang kehidupannya. Permasalahan ini hingga sekarang pun masih belum mendapatkan titik terang, misalnya saja praktek-praktek Outsourcing yang telah digariskan didalam Undang-Undang Tenaga Kerja masih belum sepenuhnya dilaksanakan oleh Perusahaan-Perusahaan penyelenggara Outsourcing, generasi-generasi muda yang memiliki bakat dan potensi tinggi yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai yang sesungguhnya (pegawai tetap, bukan OS) sedikit demi sedikit berguguran kesempatannya dikarenakan usia mereka yang semakin menua.

Meski bagaimana pun juga, pemerintah harus memikirkan nasib pegawai-pegawai yang berstatus tidak jelas, seperti halnya Outsourcing yang selalu menjadi keset “welcome” bagi perusahaan-perusahaan BUMN & Swasta. Perjuangkan dulu, atau benahi dulu Sistem Praktek Outsourcing di setiap perusahaan-perusahaan BUMN & Swasta, baru memikirkan peningkatan/perbaikan penghasilan Aparatur Negara, sebagai abdi negara sudah merupakan kewajiban untuk mendahulukan kepentingan masyarakatnya dibanding kepentingan pribadinya.

Setujukah anda dengan hal ini ? silahkan berkomentar..

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

9 responses to “Remunerasi Kepres 254/VII/10 vs Kebijakan Outsourcing

  1. YAYUK

    3 Februari 2011 at 2:19 AM

    saya setuju dengan pendapat tentang bakal terjadinya inflasi dan semakin menderitanya masyarakat berpenghasilan tidak tetap jika keppres 254 dilaksanakan. Saya sendiri adalah PNS, namun saya tidak bahagia mendengar kabar keppres tsb. Saya prihatin membayangkan apa yang akan terjadi.

     
  2. akuswanto

    11 Februari 2011 at 8:38 AM

    Salam hangat,

    kalau saya boleh berkomentar, menurut saya dg ada OC bukanlah suatu masalah sebenarnya. justru sebaliknya lebih banyak membantu. Saya contohkan beberapa kisah dari beberapa teman sebut saja namanya “Budi” yang pernah bekerja di salah satu OC di Surabaya.

    Budi berstatus keluarga dan dia memiliki 3 orang anak yang masih kecil2, dengan ijasah SLTA dia mencari pekerjaan kesana kemari dan pada akhirnya dia diterima bekerja di salah satu perusahaan OC.

    Oleh OC tersebut Budi dijelaskan tata cara dan aturan pengggajian yang dia terima nantinya, pada awalnya Budi begitu bimbang dengan pilihan bekerja di OC tersebut karena gajinya yang tidaklah mencukupi kebutuhan keluarga, oleh OC dia diberi kesempatan untuk mempertimbangkan kembali tanpa paksaan,di otak Budi pilihannya ada 6 yaitu 1. Ganti Kewarga negaraan (Jangan tinggal di Indonesia) misal di eropa yang mana pengangguran disana masih di gaji), 2. mencari pekerjaan baru yang bukan OC 3. Wiraswasta, dengan modal apa??? 4. mengundurkan diri “menganggur” atau 5. menunggu UU OC dihapuskan (alias tidak ada OC lagi, tapi entah kapan) atau 6. bekerja, tapi akhirnya mau tidak mau dia harus mengambil resiko tersebut demi kebutuhan keluarga.

    Suatu ketika oleh OC tersebut Budi disalurkan di salah satu perusahaan perbankan ternama di Indonesia sebagai security, dengan keuletan, kerja keras dan loyalitasnya terhadap perusahaan perbankan tersebut.

    Suatu ketika perusahaan perbankan tersebut membutuhkan karyawan tetap dengan membuka lowongan mencari tenaga teller, karena informasi tersebut bersifat internal, sebagai sekurity di bank tersebut secara otomatis Budi pastilah tau lebih dahulu info tersebut. pada awalnya Budi coba-coba untuk membuat lamaran kerja dan memasukkan lamaran tersebut ke bank tempat dia bekerja.

    yang pasti form lamaran kerja Budi pastilah lebih dahulu sampai ke meja HRD, mungkin oleh HRD bank tersebut form tersebut telah dibaca, dan sebagai karyawan bank pastinya HRD tersebut labih tau terhadap etos kerja yang Budi jalankan selama ini.

    Suatu hari Budi di panggil untuk mengikuti test interview dan lain sebagainya, dan pada akhirnya Budi memutuskan untuk keluar dari OC tersebut dan bekerja di salah satu perusahaan Bank tersebut sebagai Karyawan tetap.

    Malahan kabar terakhir teman saya yang bernama Budi saat ini malah di Sekolahkan untuk mencari gelar S1 dan untuk diangkat sebagai supervisor di perusahaan Bank tersebut.

    Dengan kisah yang saya tulis diatas kita bisa mempertimbangkan kembali kemana arah jalan yang harus kita pilih.

     
  3. CUNKRING

    5 Maret 2011 at 5:08 PM

    tidak utk pln, sy pny temen jd os pln, pas ada low dia ikut & dia nyamtumin pengalaman kerja jd os di pln, pdhl dia memenuhi syarat, tp dia tidak dipanggil tuh walaupun hanya utk tes

     
  4. randy

    19 Maret 2011 at 5:59 AM

    saya adalah salah satu karyawan pt miu kalbar…akhir2 ini saya mendengar kabar akan ada merumahkan karyawan yaitu yg kawin sesama karyawan satu perusahaan.ini adalah suatu kebijakan yg sangat menyakitkan bahwa salah satu dari kami suami istri harus dipaksa mengundurkan diri.
    teman2ku yg sesamama karyawan pt miu maupun OS.bagaiamana anda menyikapi kebijakan ini…..????

     
  5. keinginan

    19 April 2011 at 10:27 AM

    salam bahagia bagi rekan2 os di pt pln (persero)
    mudah2han doa dan harapan kalian terkabul mudah2han juga para petinggi pt pln (persero) dapat tergugah mata hatinya untuk memberikan kami kesempatan menjadi karyawan pt pln (persero) dan juga dapat membuka matanya lebar2 jangan selalu ingin untung tapi kami yang jadi korban ingatlah apabila kita mengambil keuntungan di balik penderitaan maka orang maka tuhan kana membalas apa yang di perbuatnya ingatlah jangan selalu berpikir pada materi2 saja ingan kita kena mati yang kita bawa AMAL IBADAH kalau saja ada petinggi pt pln (persero) yang memperjuangkan nasib kami os jadi karyawan niscaya amalnya akan alloh limpakan amin moda ajah terbaca oleh para petinggi pt pln (persero)

     
  6. doni

    22 Februari 2012 at 5:20 PM

    apakah kalian yang tidak ingin kerja sbagai tenaga krja OS merasa ada kelebihan yang bisa kalian hasilkan buat perusahaan yang bersangkutan,,,misalkan apakah untuk tamatan SMA apakah umur kalian msh pas dg lowongan kerja di PLN,,, kalo kalian merasa memang masih bisa buat ngelamar knapa gk ngelamar jdi pegawai PLN,,,sbnar ny itu kan pilihan kalian mw krja d OS apa nggak,,,klo gk pgn yaaaa cabut aj mundur,,,,,klo cuma ngeluh gak ada usaha,,,,,yaaa percuma……………..hidup ini harus banyak2 bersyukur bung…….!!!!!

     
  7. wandi

    22 Februari 2012 at 5:25 PM

    @ CUNKRING : hahahahhahahahahaha kasian kamu kring,,,,
    jgn kn MIU,PLN atw prshaan lain jg bnyak yg tdk blh nikah 1 prshaan,klo tdk terima ya cari calon isteri diluar itu,atw krja ditempat lain,,,,gitu aja repot..

     
  8. numpang lewat

    4 Mei 2012 at 3:28 PM

    maaf abang@2….jangan melihat dr kulitnya,,,adapun gaji dipotong mungkin krn abang2 punya hutang ke tempat lain,klo memang lembur nunggak coba intropeksi alur perjalanan admnya(absensinya s/d pelaporannya).
    HARAPAN ABANG@2 SAMA DGN KITA…INGIN SEJAHTERA,TP APA BOLEH BUAT,KITA PUN HANYALH pekerjanya MIU kaki tanganny PLN jd GAJI atau lainnya Majikan yg bayar,dan kita masih untung di gaji,kasian MIU dia hny jd BONEKA PLN,kasian karyawannya yg kena GETAHNYa.alhmdullh MIU masih mampu u berusaha angkat+mikirin karyawan,mesti masih ada yg blm optimal & mungkin msh ada yg mensyukuri nikmat rizkiNYA.sooo abang2 kenali dulu,pelajari dulu akar maslahnya & upayanya sblm komentar.

     
  9. wen

    21 November 2012 at 1:50 PM

    anak2 PT.mio masih untung gaji yang diterma masih 1jt 800rb.jaminan kesehatan ada.?dan mgkin bla..blee…blaa juga..???.kalau kami anak yantek yang di kontrak pln,,kalbar,di bawah cv.di (ganti yantek sekarang )gaji 800rb..bersih setelah bla..bleeee..blaaa..jaminan kesehatan tidak jelas..untung2 ada pegawai yg ingat sama di atas…nyuruh pake jaminan kesehatannya..,kalau kami gajian di warung kopi,,,tidak tentu…kayak bagi2 duit togel..jamsostek kertas foto kopi pun ngak ada…malahan di kami anak yantek pun beda2 gaji,,,semoga ingat sama akhirat,,,

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: